Laksansia

Pendahuluan

Makanan yang masuk ke dalam tubuh akan dimetabolisme menjadi energi. Sisa makanan yang tidak diserap akan diekskresikan dalam bentuk feses, ekskresi ini sering mengalami gangguan berupa kesulitan dalam defekasi yang dikenal sebagai konstipasi. Konstipasi adalah kesulitan defekasi karena tinja yang mengeras, otot polos usus yang lumpuh misalnyapada megakolon kongenital dan gangguan refleks defekasi (Ganiswara 1995). Gangguan defekasi ini terjadi karena keadaan fisiologis maupun patologis, gangguan defekasi ini akan memberikan efek buruk pada hewan sehingga harus segera diatasi.

Berkaitan dengan masalah konstipasi tersebut, maka dalam dunia kedokteran dikenal kelompok obat laksansia atau pencahar. Mekanisme kerja laksansia masih belum bisa dijelaskan karena kompleksnya faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi kolon, tranpor air dan elektrolit. Secara umum dapatdijelaskan sebagai berikut: (1) sifat hidrofilik atau osmotiknya sehingga terjadi penarikan air dengan akibat massa,konsistensi dan transit tinja bertambah; (2) pencahar bekerja langsung ataupun tidak langsung terhadap mukosa colon dalam menurunkan (absorbsi) air dan NaCl mungkin dengan mekanisme seperti (1); (3) pencahar dapat meningkatkan motilitas usus dengan akibat menurunnya absorbsi garam dan air dan selanjutnya mengurangi waktu transit (Ganiswara 1995)  Laksansia hanya digunakan untuk mengobati konstipasi fungsional dan tidak dapat mengobati konstipasi patologis. Laksansia atau pencahar dapat digolongkan sebagai pencahar pembentuk massa, pencahar hiperosmotik, pencahar pelumas, pencahar perangsang, pencahar emolien dan zat penurun tegangan permukaan.

Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa sediaan obat yang memiliki daya kerja sebagai laksansia dan mengetahui mekanisme perubahan yang terjadi dari pengaruh obat tersebut di dalam usus.

Alat dan bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah perasat bedah minor dan syringe. Bahan yang digunakan adalah tikus, benang, kapas, uretan 20%, aquades, NaCl 0,9%, NaCl 3%, MgSO­­­­4 4,7% dan MgSO­­­­4 27%.


Metode

Praktikum kali ini dilakukan dengan mengikuti beberapa langkah kerja. Pertama tikus ditimbang untuk mengetahui berat badannya dan dosis anaetesi yang diberikan. Anaestetikum yang digunakan pada praktikum ini adalah uretan dengan dosis 1,25 g/kg BB. Selanjutnya uretan disuntikkan ke tikus secara intra peritoneal (IP). Setelah teranaestesi, tikus diletakkan pada alas busa dengan posisi ventrodorsal dan kaki-kakinya diikat pada sisi bantalan busa tersebut. Kemudian dilakukan pembedahan pada bagian abdomen dan usus dipreparir. Sepanjang 2,5 cm dari daerah pylorus diikat dengan benang sebanyak dua kali. Bagian usus halus dibagi menjadi 5 segmen dengan cara diikat dengan benang sebanyak dua kali masing-masing sepanjang 3 cm. Setelah itu, keliama segmen dinjeksi sebanyak 0,25 ml secara berurutan dengan aquades, NaCl 0,9%, NaCl 3%, MgSO­­­­4 4,7% dan MgSO­­­­4 27%. Setelah semua terinjeksi maka ruang abdomen yang terbuka ditutup dengan kapas yang dibasahi dengan NaCl 0,9%. Setelah 45 menit dari penyuntikan larutan tersebut, dilakukan aspirasi cairan dari tiap segmen menggunakan syringe. Kemudian volume cairan yang diaspirasi dari tiap-tiap segmen dihitung.

Hasil

Tabel 1. Hasil aspirasi cairan usus

Larutan Volume awal (ml) Volume akhir (ml)
Aquades 0,25 0,14
NaCl 0,9% 0,25 0,21
NaCl 3% 0,25 0,17
MgSO­­­­4 4,7% 0,25 0,26
MgSO­­­­4 27% 0,25 0,30

Pembahasan

Uretan adalah senyawa etil ester dari asam karbaminik, menimbulkan efek anaestesi dengan durasi yang panjang seperti choralose. Biasanya senyawa ini digunakan untuk percobaan fisiologi dan farmakologi. Uretan sering dikombinasikan dengan choralose untuk menurunkan aktivitas muskular. Menurut literatur, uretan memiliki efek yang kecil pada respirasi dan tekanan darah arteri. Uretan tidak digunakan sebagai anaestesi dalam kedokteran hewan, tetapi dianjurkan dalam penggunaannya untuk tujuan eksperimen (percobaan) (Hall & Clarke 1983). Dalam praktikum ini, uretan digunakan pada tikus dalam tahap vegetatif (vegetative stage).

Aquades yang diberikan ke dalam usus melalui syringe termasuk larutan hipotonis (Karczmar 1963). Hipotonis merupakan keadaan dimana konsentrasi dalam larutan rendah (banyak air). Ketika larutan hipotonis (aquades) dimasukkan ke dalam lumen usus, maka aquades tersebut akan diabsorpsi ke luar usus hingga tercapai suatu keseimbangan konsentrasi di dalam maupun diluar usus. Oleh karena itu, volume aquades akhir berkurang dari 0.25 ml menjadi 0.14 ml.

Natrium klorida (NaCl) 0.9% dan Magnesium sulfat (MgSO4) 4.7% termasuk larutan isotonis (Karczmar 1963). Isotonis merupakan keadaan dimana konsentrasi larutan dan air dalam keadaan seimbang. NaCl 0.9% yang diberikan ke dalam lumen usus tidak menimbulkan absorpsi maupun penarikan air ke dalam lumen karena konsentrasi di luar dan di dalam sudah seimbang. Oleh karena itu, volume akhir larutan tidak terjadi perubahan yang berarti dari volume awal, yaitu dari 0.25 ml menjadi 0.21 ml. Begitu pula halnya dengan MgSO4 4.7%, volume akhir larutan adalah dari 0.26 ml yang awalnya 0.25. Sehingga dapat dikatakan tidak terjadi perubahan volume.

Larutan hipertonis pada praktikum ini adalah MgSO4 27% dan NaCl 3% (Karczmar 1963). Apabila larutan hipertonis berada pada lumen usus dalam jumlah tertentu maka cairan akan bergerak dari epitel usus ke lumen usus. Pergerakan cairan ini akan membuat feses yang padat akan menjadi encer sehingga defekasi menjadi mudah. Hasil pengamatan menunjukkan ada perubahan volume setelah dua larutan hipertonis tersebut dimasukkan ke lumen usus. Larutan MgSO4 mengalami perubahan volume dari 0,25 ml menjadi 0,3 ml sedangkan larutan NaCl mengalami perubahan volume 0,25 menjadi 0,17. Larutan MgSO4 27% sudah sesuai dengan literatur tetapi NaCl 3% menunjukkan keganjilan. Keganjilan ini kemungkinan terjadi karena adanya kerusakan epitel usus, perbedaan status fisiologis dengan hewan pada umumnya dan terjadi perpindahan cairan ke segmen lain karena ikatan tiap segmen tidak erat.

MgSO4 merupakan obat laktansia garam yang terdiri dari kation yang tidak bisa diserap (Magnesium) dan anion yang tidak bisa diserap pula (Sulfat) yang bekerja membentuk massa, juga menghasilkan stimulus pada aktivitas peristaltik sehingga bekerja cepat untuk mendorong garam tersebut. Tetapi meskipun begitu konsentrasi cairan obat ini bisa mengiritasi perut dan menstimulus terjadinya muntah. Obat ini bekerja sangat cepat, biasanya selama tiga sampai empat jam dan yang perlu diingat adalah karena begitu banyaknya cairan yang hilang melalui usus, akan mengakibatkan terjadinya dehidrasi (Karczmar 1963).

Kesimpulan

Aquades yang diberikan ke dalam usus merupakan larutan hipotonis, sedangkan Natrium klorida (NaCl) 0.9% dan Magnesium sulfat (MgSO4) 4.7%  merupakan larutan isotonis. Adapun NaCl 3% merupakan larutan hipertonis dan MgSO4 27% selain merupakan larutan hipertonis juga merupakan laktansia garam.

Daftar Pustaka

Ganiswara, Sulistia G. 1995. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Gaya Baru.

Goth, Andres. 1984. Medical Pharmacology. USA: The C. V. Mosby Company.

Hall, LW and Clarke, KW. 1983. Veterinary Anaesthesia. Spanish: Bailliere Tindall Ltd.

Karczmar, AG and Koppanyi, T. 1963. Experimental Pharmacodynamics. USA: Burgess Publishing Company.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s