Pemberian Obat pada Hewan Coba

Pendahuluan

          Obat
adalah zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup, maka obat sering
digunakan untuk pencegahan, diagnosis dan pengobatan penyakit. Pemberian obat
dapat diberikan secara peroral, parenteral, perinhalasi, perektal, dan topical.
Pemberiannya tergantung pada jenis obat dan jenis penyakit yang diobati.

          Pemilihan
hewan coba harus diketahui sifat-sifat hewan coba maupun cara penanganannya
serta cara pemberian obat. Seorang dokter hewan harus memiliki kemampuan dalam
hal cara pemberian obat yang baik sesuai dengan jenis hewan coba tersebut.

Katak merupakan hewan percobaan yang
jarang digunakan dalam penelitian-penelitian farmakologik, namun dalam
praktikum untuk mahasiswa di laboratorium, katak memiliki peran yang penting,
antara lain karena harga katak relatif murah dibandingkan dengan hewan-hewan
percobaan lainnya. Meskipun susunan syaraf katak lebih sederhana dibandingkan
dengan mamalia, tetapi prinsip-prinsip dasar susunan syaraf pusat dapat
dipelajari dengan menggunakan katak. Seperti halnya pada hewan berderajat
tinggi, susunan syaraf pusat katak dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu
prosensepalon, mesensefalon, rombesefalon, dan medulla spinalis. Lebih lanjut
prosensefalon dapat dibagi lagi menjadi dua, yaitu telensefalon dan diensefalon.  Telensefalon setelah masa embriona akan
berubah menjadi serebrum. Daerah serebrum merubah pangkal dari saraf otak I
(nervus olfaktorius) dan saraf otot II (nervus optikus). Bagian kulit serebrum
(kortek serebri) terdiri atas berpuluh-puluh area dengan fungsi yang
berbeda-beda, antara lain sebagai pusat sensorik, pusat motorik, pusat
asosiasi, pusat kesadaran, pusat penerimaan ransang penglihatan, pusat
pengaturan tingkah laku dan pada hewan yang berderajat lebih tinggi, juga
merupakan pusat reflek bersyarat. Bagian otak lain berkembang menjadi
serebellum, medula oblongata dan medula spinalis. Serebellum merupakan otak
pengendali keseimbangan tubuh serta gerakan tubuh. Medulla oblongata mengatur
pusar syaraf otonom berupa kendali
pernafasan, mengatur sistem
kardiovaskular, fungsi gastrointerstinal, mengatur gerakan tubuh yang stereo
tipi, keseimbnagan dan gerakan mata
, serta medulla spinalis yang terletak memanjang disepanjang
tulang belakang memegang kendali reflek tubuh.

 

 Tujuan

    Praktikum ini bertujuan
untuk mengetahui dan mempelajari tata cara pemberian obat pada hewan
laboratorium. Serta mengetahui fungsi cerebellum, cerebrum dan medulla
oblongata terhadap fungsi fisologis pada tubuh.

 

 

Alat dan Bahan        

          Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah sonde, papan
katak, lap, dan spoid. Sedangkan bahan yang digunakan adalah katak, tikus,
mencit, kelinci, HCl, alcohol 70%, NaCl, dan
aquades.

 

Metode

    Percobaan katak
normal dilakukan dengan meletakkan katak secara bebas diatas meja atau tempat
yang luas, dan
diberi beberapa perlakuan
kemudian dicatat. Adapun perlakuan yang dilakukan adalah mengamati posisi
duduk; frekuensi denyut jantung dan nafas dihitung; katak dibalikkan dan
diperhatikan geraknya ke posisi semula; gerakan spontan seperti melompat dan
besar ransangan reaksi; cara katak berenang; melihat reaksi katak dengan cara
diletakkan di atas papan katak dan dimiringkan ke kiri, kanan, keatas dan
kebawah; melihat reaksi sakit dengna menusuk selaput kaki katak dengan sonde
dan ditetesi asam encer. semua perubahan reaksi katak diperhatikan dan dicatat.

    Penekanan fungsi susunan saraf pusat katak secara mekanis dilakukan dengan merusak bagian-bagian otak dan
pusat saraf yang bekerja. pertama cerebrum dirusak dengan  menusuk jarum ke tengah bagian tepat
dibelakang mata (deserebrasi). Biarkan selama 10 menit kemudian lakukan
pengamatan seperti pada katakk normal. Perusakan oblongata dilakukan dengan
menusuk kepala dengan jarum
penusuk mulai dari foramen
magnum ke semua bagian cranialnya
.
Tunggu beberapa menit kemudian lakukan perlakuan seperti pada katak normal.
Perusakan medulla spinalis dapat dilakukan dengan menusukkan jarum
penusuk dari foramen magnum ke caudal.
Beri perlakuan seperti pada katak normal dan
perhatikan perbedaan hasil pengamatan setelah perusakan dengan hasil
pada katak normal untuk menentukan pusat-pusat apa yang dirusak serta fungsi apa aja yang
ditekan.
  

 

 



Hasil

Tabel 1. Pengaruh
aktifitas katak terhadap perusakan SSP

Aktivitas katak

Normal

Sesudah perusakan serebrum (deserebrasi)

Sesudah perusakan medulla oblongata, lobus optikus, dan serebellum

Sesudah perusakan medulla spinalis (spinalis)

Kesadaran

++

++

+

**

Gerakan spontan

++

+

-

**

Posisi waktu istirahat

30°

15°

**

Frekuensi jantung

72x/menit

76x/menit

72x/menit

**

Frekuensi pernapasan

64x/menit

8x/menit

1x/menit

**

Keseimbangan

++

-

-

**

Reaksi terhadap asam

10 s

-

-

**

Tonus otot

++

+

+

**

Refleks-refleks

++

-

-

**

Lain-lain (berenang)

++

-

-

**

keterangan:  
++ 
: baik

                        +  : kurang baik

                        ** : mati

 

Pembahasan

          Berdasarkan hasil praktikum, katak deserebrasi masih memiliki
tingkat kesadaran yang baik dan menurun kesadarannya ketika sereberumnya
dirusak. Kesadaran sudah hilang pada katak spinalis. Menurut (Thomas, 2002 ),
serebrum bertanggung jawab dalam proses belajar, kecerdasan, kesadaran, dll.
Hasil praktikum ini kurang sesuai karena pada serebrum yang dirusak,
kesadarannya masih baik. Namun,  pada
serebellumnya yang dirusak, kesadarannya menurun. Hal ini berbalik dengan
pernyataan literatur tersebut yang mungkin disebabkan karena kerusakan serebrum
pada tahap parsial sehingga kesadaran masih baik. Kemungkinan terjadinya
kerusakan serebrum secara parsial karena metode praktikum yang digunakan tidak
dapat melakukan perusakkan serebrum secara total.

          Gerakan spontan kurang baik pada katak deserebrasi dan
menghilang pada pengrusakan serebellum dan katak spinalis. Menurut literatur, d
iencephalon berfungsi untuk menyambung
sensori ke kortex, berperan dalam saraf otonom dan sekresi hormon dari pituitary
gland
. Dengan kata lain,
hasil praktikum tersebut sejalan dengan literatur karena gerakan spontan makin
menurun ketika medulla oblongata dan medulla spinalis dirusak.

          Pada aktivitas posisit waku istirahat
katak, katak normal menunjukkan posisi ±30°. Namun, posisi tersebut menurun
menjadi ±15° dan ±5° pada katak yang dirusak serebellumnya. Menurut literatur
(Thomas, 2002), serebellum merupakan komponen otak terbesar kedua dan berperan
untuk mengkoordinasi pergerakan, keseimbangan, postur/posisi tubuh, dan refleks
kompleks. Hal tersebut sejalan dengan hasil praktikum yang didapat.

          Frekuensi jantung katak meningkat saat
setelah perusakan serebrum dari 72x/menit menjadi 76x/menit dan kembali menjadi
72x/menit setelah dirusak serebellumnya. Frekuensi jantung pada katak tampak
tidak menunjukkan pengaruh dari perusakan serebrum maupun serebellum
dikarenakan jantung dikontrol oleh saraf otonom. Apapun peningkatan frekuensi
pada perusakan serebrum mungkin disebabkan hewan stress.

          Pusat pengaturan frekuensi nafas
terletak di medula oblongata (Guyton, 1995). pada praktikum ini terlihat hasil
yang tidak sesuai dengan teori yang ada karena pada katak deserebrasi frekuensi
nafas telah mengalami penurunan menjadi 6x/menit dan menjadi 1x/menit setelah
perusakan serebellum dan medula oblongata. Hal ini mungkin disebabkan ketika
merusak serebrum, medula oblongata ikut mengalami kerusakan dan mempengaruhi
pernafasan

          Pusat keseimbangan terdapat di vestibuloserebellum
bersama batang otak dan medulla spinalis (Guyton, 1995). Hasil pengamatan
menunjukkan keseimbangan tereliminasi setelah kerusakan serebrum. Kemungkinan
yang bisa terjadi adalah dalam proses kerusakan serebrum diikuti juga kerusakan
serebellum sehingga kesadaran hilang.

          Pusat rasa nyeri terdapat pada korteks
serebri (Guyton, 1995). Hasil pengamatan menunjukkan sesuai dengan teori karena
katak deserebrasi memperlihatkan tidak ada rasa nyeri. Rasa nyeri ditunjukkan
melalui respons mengangkat kaki setelah kaki dicelupkan dalam larutan asam
selama beberapa detik.

          Pusat tonus otot pada medulla
spinalis. Fakta hasil pengamatan menunjukkan ketidaksesuaian dengan teori.
Tonus otot hilang pada katak deserebrasi. Kemungkinan yang terjadi hingga
menyebabkan penyimpangan dari teori adalah kerusakan medulla spinalis terjadi
dalam deserebrasi katak.

          Pusat gerakan spontan berada di
serebrum karena perlu adanya memori terhadap suatu aktivitas untuk melakukan
gerakan spontan. Dalam praktikum gerakan spontan tidak ada lagi karena serebrum
hilang. Sementara itu refleks lain diatur oleh medulla spinalis. Setelah
spinalis rusak maka refleks tersebut hilang.

 

Kesimpulan

          Berdasarkan
hasil pengamatan, disimpulkan bahwa fungsi serebrum adalah kesadaran, gerakan
spontan, posisi istirahat, rasa nyeri. Fungsi medulla oblongata adalah
pengendali pernafasan. Serebellum berperan dalam keseimbangan. Medulla spinalis
berperan dalam refleks dan tonus otot. Pengendalian denyut jantung dipengaruhi
oleh pacemaker. 

 

Daftar Pustaka

Colville, Thomas dan joanna MB. 2002. Clinical
Anatomy & Physiology For Veterinaty Technicians
. USA: Mosby.

Ganong,
F.William.
1995. Buku ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi II. Jakarta :   EGC. Penerjemah H. M Djuahari Wdjokusumah.
Terjemahan dari review off Medical Physiology.

Guyton,
Arthur C. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi
9. Jakarta : EGC. Penerjemah Ken Ariata Tengadi. Terjemahan dari Textbook
of Medical Physiology.   

 

Blogged with the Flock Browser
About these ads

About this entry